Arsip untuk ‘Politika’ Kategori

KUNCI SAYA HILANG

Juni 17, 2008

Entah mengapa akhir-akhir ini orang-orang banyak yang berkata kepada saya “kunci saya hilang”. Lalu saya jawab “apakah anda sudah meletakkan kunci anda di tempat yang layak?” Sudah tau kunci itu sangat diperlukan, tetapi anda letakkan ditempat sembarangan. Jika butuh baru anda sibuk mencari Kesana kemari. Insiden kehilangan kunci tersebut tidak lain karena EGO dan KESOMBONGAN anda sendiri. Bersikap opportunis demi kepentingan sesaat.

Ya, begitu juga dengan sebuah organisasi baik bisnis maupun pemerintah. Jika tidak menempatkan orang-orang kunci di tempat yang layak, maka tunggulah kehancurannya. Dan biasanya mereka baru menyadarinya ketika kehancuran itu telah menimpa mereka.

SPEEDERMAN HANYA ADA DI DALAM FILM?

Juni 15, 2008

Dewasa ini masyarakat mulai resah. Karena kenaikan harga-harga barang terus meningkat (inflasi). Sebaliknya harga diri menurun (deflasi). Bahkan diri itu sendiri (orang/manusia) menjadi komoditas.

Hm..sementara negarawan banyak yang korup. Departemen-departemen yang diharapkan mampu menumbuh kembangkan bidang yang di bawahinya malah mandul. Angka pengangguran dan tingkat kemiskinan terus meningkat. Gelar-gelar akademis sudah tidak mempunyai arti yang memuaskan lagi. “Padahal indonesia memiliki banyak orang-orang pintar”, kata seorang teman saya. Lalu saya bilang “hanya sedikit orang yang pintar, yang banyak adalah orang yang egois”.

“Lalu, bagai mana kita seharusnya ?”, tanya teman saya lagi. Saya berkata “jadilah pahlawan bagi diri kita masing-masing. Karena super hero seperti speederman hanya ada dalam film-film dan buku cerita pengantar tidur.. Mungkin ini dianggap pendapat yang tendensius dan pesimistis. Tetapi, bukankah memang seperti itu realitanya?

Untuk melengkapi kalimat masing-masing kita harus menjadi pahlawan bagi diri kita sendiri. Dan itu sudah menjadi suatu keharusan. Mengapa?

Karena aparatur pemerintah itu juga manusia yang lemah dan memiliki kekurangan-kekurangan. Bisa saja otak mereka cerdas, tetapi moralitas mereka diragukan (perlu untuk dicatat bahwa tidak semu dari mereka itu buruk).

Selain itu jumlah mereka terbatas. Keahlian, dana dan waktu juga terbatas. Lebih-lebih jika KKN sudah membudaya. Jika seperti itu sikonnya, ya.. konsep-konsep yang mengatas namakan kepentingan publik, kesejahteraan massal baru menjadi konsep yang belum matang. Atau bisa dikatakan Republik mimpi seperti yang di tayangkan MetroTV.

Ya, bisa jadi mimpi-mimpi itu masih jauh dari jangkaun kita karena kita menggagas mimpi yang terlalu muluk atau bisa jadi karena usaha kita yang belum tepat?

Bisa jadi kita memutuskan untuk berhenti bermimpi, tetapi orang dan negara lain terus membangun mimpi-mimpi mereka. Dan biasanya kita dipaksa membeli mimpi orang lain yang menjadi kenyataan. Kita beli dengan harga yang cukup mahal, seperti barang-barang import tersebut..